Information



Jakarta, Ancaman siber yang terus berkembang mengharuskan berbagai sektor bisnis menyiapkan berbagai langkah untuk menangkalnya. Salah satunya adalah dengan membangun sistem keamanan siber yang kuat.

Biasanya, perbankan sebagai sektor bisnis yang sangat serius dalam membangun sistem keamanan siber. Ini membuat hacker harus mengalihkan perhatian mereka ke sektor bisnis lain.

Menurut Symantec, pelaku bisnis medis tidak menyediakan lebih dari 6 persen dari anggaran mereka untuk keamanan siber. Jumlah ini berbeda jauh dengan sektor finansial, yang para pemainnya rela menggelontorkan anggaran sekitar 1 persen untuk keamanan siber.

"Para pelaku industri medis, misalnya rumah sakit, menyimpan data pelanggan dalam jumlah yang sangat banyak," kata Peter. Alasannya, rumash sakit adalah salah satu layanan publik yang tidak membatasi jenis pelanggannya. Siapapun bisa mendaftarkan dirinya, walaupun penggunaannya bersifat sementara.

Data pribadi ini menurut sebagian pelaku bisnis medis tidak dirasa penting. Tidak heran jika anggaran satu rumah sakit bukan terfokus pada infrastruktur IT. 

Akibatnya, hacker bisa memanfaatkan celah yang ada dengan cara yang paling mudah sekalipun, misalnya dengan memasang flash drive pada satu sistem PoS (Point of Sale)

Ketika hacker berhasil mengakses data sensitif rumah sakit, mereka akan menjalankan malware yang secara otomatis menggandakan dirinya untuk mengambil data yang lebih banyak. Begitu dieksploitasi, reputasi rumah sakit tersebut bisa hancur seketika.

Oleh sebab itu, apapun sektor bisnisnya, perusahaan harus rela berinvestasi dalam membangun sistem keamanan siber, terutama jika mereka ingin terjun ke industri digital yang menghubungkan semua pelanggan dan karyawannya via internet. Memang belum tentu sepenuhnya aman, tetapi bisa mencegah dan mengurangi risiko kebocoran data perusahaan.

Bagikan ke

0 Komentar